[cyn] iykyk tbc

Why would I come back to you

If you don't need me to?

I'll be losing you

And we'll be losing us


Aku sedang mendengarkan lagu rekomendasi dari dirimu sekarang.

“Dengerin aja kalo lagi galau, lagunya bagus”

Tapi ternyata dia sumber galaunya.


Waktu berlalu, tidak ada lagi celoteh dariku kepadamu

Apa kau rindu?

Dua kali pertemuan?

Satunya tidak berkesan

Sangat buruk jika diingat

Aku, aku jika dalam kesadaran penuh dan tidak terlalu hanyut dalam emosi, waktu itu seharusnya aku menegurmu.

Tapi kau tidak begitu terpengaruh dengan hadirku ya?

Maaf terlalu menaruh harapan kepadamu dengan amat besar.

Itu pertama kalinya.

Aku terlalu naif.

Maaf.


*


Lalu? lalu apa?

Aku termakan emosi terus menerus

Trust isssue dengan perasaan tidak diinginkan kembali menghantuiku

“Apa aku memang diinginkan oleh manusia di muka bumi ini?”

Begitu pikirku di setiap malam

Bahkan di waktu senggang, tak ada distraksi yang berarti,

kembali pertanyaan itu menghantuiku


Dan aku teringat apakah ini penyebab trust issue-ku kepada manusia.

Tentang orang tuaku yang sedingin itu?

Hanya karena mereka tidak bisa mengekspresikan perasaannya kepadaku

Love affection di keluarga ini amat payah.

Kenapa baru ku sadari kalau ini bentuk luka batin mereka juga yang mereka mau tak mau menurunkan itu semua kepadaku?

Jujur tiap memikirkan ini-oh sial aku menangis sekarang-aku tidak sanggup meneruskannya, tanganku bergetar.

Aku menangis.

Pernah ku membaca kalimat “orang tuamu baru pertama kali menjadi orang tua, bersikap baiklah kepada mereka meski mereka tak berbuat baik padamu”.


Mereka tidak ingin bersikap begitu, hanya saja mereka punya luka yang tanpa mereka sadari melukai buah hatinya.

Aku teringat berbagai hal yang mereka berikan untukku.

Mereka berusaha menjadi orang tua yang terbaik.

Hanya saja aku yang terlanjur kecewa jadi mengabaikan itu semua dan lebih memilih dimana tempat ternyamanku berada.

Rumah nenekku.


Mungkin mama ingin lebih dekat denganku hanya tak tau bagaimana caranya.

Mungkin papa ingin bercanda denganku hanya saja tak tau kemana arah pembicaraannya.

Mungkin.

Hanya dapat ku duga saja karena aku tidak bisa menanyakannya lagi ke mama. Apalagi pembicaraan mendalam dengan papa.


Dulu jaman sekolah aku selalu menjadi siswa terakhir kali dijemput dengan mereka.

Pernah disinggung oleh keluargaku, orang tuaku menjawab dengan nada bercanda bahwa mereka lupa menjemputku.

Apa?

Lupa?

Dengan anak sendiri?

Apa mereka benar menginginkanku ada di dunia ini?

Begitu pikirku.


Dan kemungkinan itu menjadi pemicu salah satu luka terbesarku.

Mungkin terlihat sepele bagi orang-orang.

Tapi siapa yang akan sabar kalau dari TK hingga SMA aku menjadi siswa yang terakhir kali dijemput sekolah.

Terus menerus.

Hampir setiap hari.


Coba kalian jadi aku sebentar saja?

Sewaktu SMP aku ingat pernah diperlakukan tidak baik oleh orang asing yang melakukan aksi eksibisionis karena aku memilih untuk pulang sendirian di keadaan sekolah yang sudah benar-benar sepi.

Aku ketakutan.

Aku berlari sampai menemukan jalan raya.


Itu membuatku tidak suka menunggu apapun.

Tapi, ada lagi yang membuatku kagum dengan didikan orang tuaku.

Yang harusnya tidak boleh ku jadikan sebagai dendam karena mereka baru pertama kali menjadi orang tua.


Kenapa bisa aku memiliki pemikiran yang berlebihan tentang tidak diinginkan?

Apa karena satu hal lain?

Tentang dimana anak-anak seusiaku waktu itu tidak harusnya mendengar tentang materi yang nominalnya pun terucap dimana itu belum menjadi tanggung jawabku?

Aku masih menjadi tanggungan mereka, masih sekolah.

Hanya ingin meminta kepada mereka untuk membelikan dan mewujudkan sesuatu yang aku inginkan bahkan ku butuhkan.

Kemudian disebutkan dan diungkit semuanya saat mereka memarahiku.

Sakit hati?

Tentu.


Lagi dan lagi aku berpikir,

“Apa benar mereka menginginkanku hadir di dunia? Kenapa mereka menempatkanku seakan aku ini benar-benar beban mereka? Apakah memang harusnya aku tidak ada di dunia ini ya?”


Self-defenseku membuat diriku pelit dengan semua hal.

Teman-temanku tentu menyadari bahwa aku tumbuh menjadi anak yang perhitungan dengan semua hal.

Hal yang mengganggu sekali.

Memangnya aku mau menjadi seperti itu?

Uang saku saja tidak banyak dan aku tidak pernah bisa menabung saat sekolah sampai kuliah.

Memang ada beberapa barang yang orang tuaku berikan kepadaku dan membuat beberapa temanku iri denganku. Sampai memusuhiku.

Aku bingung dengan orang tuaku.

Komunikasi kami tidak terlalu baik juga di rumah.

Hehe.


Hingga pada akhirnya mama sakit dan memilih untuk pergi dari dunia ini.

Duniaku hancur.


Memang benar menjadi orang yang merawat mama di saat sakit, tenagaku terkuras, emosiku juga entah kemana.

Apalagi mama?

Harus minum obat sebanyak itu dan emosinya tidak terkontrol sama sekali.

Sungguh melelahkan.

Tapi dengan itu aku jadi senang karena memiliki waktu banyak dengan mama di rumah sakit.

Jujur aku benci rumah sakit.

Vibes antara hidup dan mati yang kental.

Memuakkan.

Hanya saja, awalnya tentu canggung karena aku terkadang tidak tau harus bicara apa dengan mama.

Tapi lama-lama aku terbiasa.


Masalah bertubi-tubi tentang skripsi yang lama selesainya, mama yang sakit, keluarga yang hancur di dalam hingga aku tak percaya pernikahan itu indah dan memiliki kebencian penuh dengan lelaki, persahabatan pun hancur hingga akhirnya mama pergi.

Aku kagum pada diriku yang masih bisa mengetik semua ini sekarang haha.


Lalu…

Dengan mentalku yang hancur ini dan luka yang menganga lebar, berani-beraninya buka hati ke orang lain dalam suatu hubungan asmara?

Sungguh perangkap.

Harusnya aku pergi ke profesional untuk mengatasi luka yang ku miliki.

Bukan berharap banyak kepada orang yang belum pasti menjadi pelabuhan terakhirku.


Iya, memang aku yang terlanjur terbawa perasaan.

Sial.


Orang yang tidak mampu menepi ke daratan.

Ketika kapal dihantam ombak, dia lebih memilih membiarkan kapalnya terapung di tengah lautan luas sampai aku yang ambil alih.

Orang yang sama sekali belum siap untuk berlayar.


Karena sekecil apapun masalah, tentu tidak akan menjadi suatu beban kalau kita adalah orang yang benar-benar dia inginkan.

Bagaimana bisa kita berlayar tanpa bekal?

Yang ada kita akan terperangkap di samudera dan tenggelam dihantam ombak.


Intinya?


Aku bukan orang yang dia inginkan.


*


Sewaktu masa denial, aku masih menghubungimu ya? Hehe.

Karena rindu menggebu itu menjadikanku bodoh.

Banyak hal yang membuatku jadi menyalahkan diri sendiri.

Menangis, termenung, marah-marah saat kau menghilang dari peredaran.

Bertanya-tanya mengapa? kenapa? apa dia baik-baik saja?

Kasihan sekali diriku ini haha, mencoba peduli kepada orang yang sudah tidak memperdulikanku.

Sebenarnya sudah banyak kata bodoh kulontarkan pada diriku, hanya saja batin ini mendelik kalau itu tidak boleh ku katakan pada diri sendiri.

Itu kata yang membuat tubuhku menjadi tidak sehat, pikirku.

Tapi tentu saja aku impulsif.


Karena terbawa perasaan

Lalu aku menghubungimu akhir tahun lalu.

Tentu saja semua tingkah laku bodohku menyuapi egomu.

Kalau diingat tentu saja sakit sekali.


Dari kalimat terjahat tingkat terendah sampai tertinggi dia ucapkan.

Kalimat yang tidak seharusnya dilontarkan kepada perempuan yang memiliki cita-cita menjadi seorang ibu.

Setiap perempuan di bumi ini tidak boleh mendengar kalimat itu.

Aku banyak terdiam dan terkejut.

Hening beberapa menit mendengarkannya bicara.

Mendengarkan tawanya yang lepas.

Sungguh aku membencimu, namun aku rindu.


Semuanya berantakan.

Harusnya ada jeda di kalimat itu, harusnya aku mengatakan “ya, aku bisa menunggumu” tanpa harus menunggumu menjawab pertanyaanmu sendiri.

Telat sedetik, semuanya hanya jadi asa.

Manusia egois.

Aku memang bercerita masa lalu dimana aku tidak bisa menunggu seseorang karena beberapa alasan. Tapi dirimu itu pengecualian.

Hanya saja kau yang bingung dan termakan pemikiranmu sendiri.

Telan saja semua asumsimu.

Komentar

Postingan Populer