Surat untuk orang terkasihku
Aku tidak secara gamblang mengatakan kalau aku menyayangimu waktu itu. Bahkan mungkin tidak pernah lagi ku katakan sejak aku dewasa. Dan sekarang juga sudah tidak bisa lagi ku katakan secara langsung. Aku hanya bisa mengetik di notes-ku, menulis jika aku ingin. Yang aku juga tidak tau kalau akan dibaca olehmu?
Aku sudah jarang mengunjungimu, terlebih karena perasaan sakitnya masih ada. Setiap pergi kesana, air mataku tumpah.
Sepulang kerja aku sempatkan, tapi tidak setiap hari. Aku sadar umurku sudah mulai bertambah dan tidak bisa ku cegah, buatku mudah lelah dan memutuskan untuk memperbanyak istirahat. Tapi umurmu sudah terhenti, dan aku tidak lagi punya kesempatan untuk mengatakan banyak hal. Hal yang ku hadapi setiap hari. Dan masih ku butuhkan semua bimbinganmu.
Sudah banyak cerita yang terjadi, aku tidak menangis sesering dulu. Tapi, beratnya kepalaku memikirkan sesuatu yang tidak tau dari mana datangnya.
"Bagaimana kalau aku tidak bisa?"
"Bagaimana kalau nanti aku jadi begini?"
Apa aku termasuk yang beruntung?
Aku bertemu orang-orang yang baik, yang mendukungku, yang mengatakan kalau aku bisa. Aku bisa menghadapi semua ini. Apa iya?
Tapi aku juga termasuk yang tidak beruntung, karena aku kehilanganmu.
Kehilangan senyummu, kehilangan tawamu, kehilangan omelanmu yang amat ku rindukan. Bahkan kalau ada teman atau saudara perempuan yang mengomeliku, aku cuma bisa tersenyum dan tertawa. Menganggap itu omelan mama.
Masih banyak hal yang ingin ku lakukan dengan mama.
Aku juga sering memimpikan mama, pergi ke tempat yang seharusnya kita kunjungi bersama. Pergi kesana kemari, meski tak banyak kata terucap, hati bahagia itu terpancar dari sorot mata mama. Rasanya aku ingin tidur selamanya saja kalau itu satu-satunya cara bertemu mama.
Yang aku pikirkan saat ini?
Aku tidak tau mau kemana? Aku kehilangan arah, aku butuh mamaku. Aku butuh orang tuaku. Masih tertatih aku mencari petunjuk caranya hidup di dunia.
Ma, aku ingin lihat kerutan di wajah mama, aku ingin mama hadir di hari bahagia ku yang aku pun juga tidak terlalu berharap lagi bisa ke arah sana, aku ingin membelikan mama makanan enak, aku masih ingin mengomeli mama yang nggak pernah nurut larangan dokter, aku masih ingin dengar omelan mama, dengar suara mama yang cantik, lihat senyuman mama, aku nggak mau lihat mama nangis.
Jujur, waktu itu aku nggak paham dengan situasinya dan banyak sekali yang datang. Aku dipeluk dan ditenangkan mereka. Di titik terendahku, aku nggak yakin bisa menghadapi semuanya dengan berbagai hal yang nggak enak ku dengar. Aku cuma mau sendiri dan mencernanya dengan jelas. Ini apa? Kenapa terjadi sekarang? Memang dokter sudah mengatakan kalau aku harus memperbanyak doa. Mendoakan kesembuhan mama yang dokter pun sudah angkat tangan.
Ada yang bilang mata itu jendela hati, aku lihat banyak yang bersimpati, berempati, iba dengaku. Nggak enak rasanya dikasihani, ma. Aneh rasanya.
Untuk beberapa orang yang dekat dengan ibunya, mungkin akan sangat terluka dengan hal ini. Kehilangan seorang ibu. Apalagi yang baru merasa dekat dan dulunya diabaikan. Masa pengasuhanku memang nggak terlalu baik. Mama dulu juga mengakuinya.
Yang pasti, kalau aku sedih dan ingat mama, aku cuma bisa menangis dan bilang "aku menerima luka ini, luka yang orang bilang nggak ada obat penawarnya"
Komentar
Posting Komentar